photo '..from NoWhere to SomeWhere..' by ak
..karena belajar adalah kewajiban dan kebutuhan seumur hidup.. ...karena kebaikan adalah energi + yang tak lekang oleh waktu...
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

Status-status FB itu..

Ya, yang saya maksud FB adalah fesbuk alias Facebook.
Kok FB dibawa2 kesini ?
Iya, karena saya ingin menyalahkan ke-FB-an saya yang menyebabkan blog ini lagi-lagi terlantar.
Itu pertama :)

Kedua,
Pada galibnya (kenyataannya ?), banyak hal yang saya tuangkan di FB (berikut beberapa komen, diskusi, serius maupun sok serius, becanda, maupun konyol) bisa saya tuliskan dan detilkan menjadi sebuah tulisan yang lebih bermakna di blog (halah, makna apanya?). Maksudnya, bermakna untuk mengisi kekosongan blog, begitu :)


gb dari sini

Ketiga,
Saya sudah menyimpulkan, untuk kondisi saat ini saya 'tidak sanggup' untuk terus 'berkarya' secara lebih baik dan utuh (walah, emang yg mana) di blog ini. Jadi mungkin akan saya isi dengan memakai gaya yang lebih 'natural' (maksudnya, sekenanya kale hehe).
Tapi saya jamin tetep bermakna kok (lihat soal makna di point 2 di atas haha..)

Demikianlah, akhirnya ini lah persembahannya..

_____________________________


7 Juli 2009 :
Untuk melakukan sesuatu yang serius dan penting, kita harus pakai ilmu. Jadi, Maaf Kawans, "Elmu" saya belum cukup untuk memahami ini semua... Selamat (TIDAK) Memilih.. !

6 Juli 2009 :
Benarkah kita masih PERLU memilih, ketika semua PIHAKs (jama'ah/gerombolan-nya),
menempuh SEGALA cara untuk menang ? Benarkah kita (sedang) memilih Pemimpin? Sungguh, Saya memilih untuk jadi PemimPI saja!!

2 Juli 2009 :
JK pinter sekali mengkategorisasi masalah, cepat punya solusi, walaupun masih debatable;
Sby memang bijaksana, pintar mengargai orang, cukup intelek d berhati2, tapi jadi kurang menukik

1 Juli 2009 :
Mungkinkah Politik "Langit" ada berbarengan dengan dunia Duit (Kapitalisme cs) ?!! no
.. no.. dont think so..


26 Juni 2009 :
Simplifikasi: Utang Negara yg Trilyunan ini, mgkin seperti kita yg utang KPR. Seberapa
banyak dari kita bisa beli rumah tanpa KPR ?

24 Juni 2009 :
Kita punya pecel nikmat, tapi peraciknya tukang rebutan dan penjaganya kelas sinetron.
Kita punya roti harum, tapi belinya harus ke warung si Mister, with a CC, its a must
condition! . Kita bisa bikin gudeg ciamik made in celebes, tapi para makelar sudah antri
tak karuan. What a BAD choices..


23 Juni 2009 :
Wiranto memang tentara yg cerdas d cukup tenang, Budiono konseptual dan luas, Prabowo
hanya salut sama semangatnya


23 Juni 2009 :
Jika yang engkau tuhankan segunung emas, maka tunggulah sampai gempanya menguburkanmu (*from somewhere*)

19 Juni 2009 :
[Berita Ngawur] Vandalisme Suramadu...
dari JP
Hahaha.. Bangsa yg Lucu, baru belajar alam full demokrasi, Euforia yang tak
berkesudahan.. Sekali lagi, note saya tentang Budaya Internet, Budaya NGERUMPI menjadi
SANGAT Penting (hehehe promosi) --
di sini


18 Juni 2009 :
DEMOKRASI 3.0! Kawans, mungkinkah "mengendalikan" negara/politik lewat suatu System ??..
Demokrasi 2.0 sudah dimulai.. Mungkinkah menginisiasi Demokrasi 3.0 ?!

17 Juni 2009 :
Ketika kepala terang benderang, tanda Otak bekerja gamblang... Ketika hati berdesir
tentram, tanda Nurani sedang tersiram... Ketika dada berdegup kencang, tanda Nafsu
sedang meradang.... (T or F, Believe It or Not)


15 Juni 2009 :
Pemberantasan Korupsi SBY paling lugas! (hey kawans.. diriku obyektif kan? :D)

15 Juni 2009 :
tapi..... diriku masih belum mengerti juga, kenapa namanya Suramadu ???

15 Juni 2009 :
Isu Kemandirian JK menarik juga

12 Juni 2009 :
Temans, bagi orang luar, Indonesia sangat menarik dan kaya. Monggo optimalkan
pengetahuan dan pengalaman keIndonesiaanmu utk kepentingan bangsa ! Merdeka !!
(halaah..) (*berdasar pengalaman pribadi yg sering tergagap menjelaskan pariwisata Indonesia, krn minim exprnce hix..)

10 Juni 2009 :
Sejak lama diriku deg2an menunggunya. Dan hari ini adalah salah satu puncaknya. Selamat datang yang kutunggu-tunggu... (Selamat tretan Madura, selamat menyambut Suramadu)

3 Juni 2009 :
Semakin diperhatikan kok ternyata semakin tidak menarik... (a message for an object : politica of indonesiana)

1 Juni 2009 :
Memang semakin luas cara dan volume orang berkomunikasi, (seakan2) semakin banyak dan kompleks problem terjadi. Dan kita ternyata masih harus terus belajar, belajar, dan bersabar... Semoga !

Rabu, 15 April 2009

Puisi2(an) Legisla-si(a2)

Satu Pemilu lewat baru saja
Ada ceria, ada euforia
Ada bencana, ada (yg jadi) paria
Karena harta sudah tiada

Bukan itu saja
Karena banyak juga yang gila
Hanya karena suara
Apa daya, perjuangan itu hanya mimpi semata
Karena engkau harap pesta
Di atas derita para jelata

Bagi yang tersenyum di sana
Apa pula yang ada di kepala
Apakah nasib bangsa
Ataukah kemewahan keluarga
Apakah perbaikan kasta
Juga rebutan harta negara

Lalu Sang Suara bertanya
Apakah yang kau maksud idealita
???

gb: news.uns.ac.id

Kamis, 02 April 2009

Kampanye, Pemimpin, dan Panggung itu


Sudah dua minggu masa kampanye pemilu. Tiga orang sekawan, masih tenang2 saja.

So : Hey Te, juga kamu Re, gak ikutan kampanye?
Te : Kampanye kan buat yang punya kepentingan
Re : Iya, kan kita bukan caleg

So : Lo tapi kan kalian perlu punya wakil?
Te : Aku merasa tidak diwakili
Re : Aku merasa baik-baik saja tidak punya wakil

So : yaah.. tapi kan paling tidak kamu2 perlu pemimpin dong
Te : Pemimpin itu yang banyak membantu dan mendukung, bukan minta banyak bantuan dan
dukungan
Re : Setiap orang kan pemimpin, kata agama

So : Ah susah deh, okelah, jangan ngomong pemimpin deh.. tapi kan kalian perlu dpr &
Presiden. Pengurus dan ketua pengelola pemerintahan negara
Te : Itu kan kebutuhan para pemain politik, kami2 sih gak ada hubungannya
Re : Secara filosofis, presiden dan dpr itu bawahannya rakyat, jadi mereka yang perlu
mengelu2kan kita, bukan sebaliknya, mereka yang di atas panggung, kita yang kepanasan
berebut nasi bungkus

So : ah au ah.. gelap ngomong ma kalian. Ku mo pergi, ikut rame2 kampanye
Te : Kemana?
Re : Kampanye apa?

So : hmm..itu.. pokoknya yang ada dangdutnya deh..
Te : lha..? tapi kalo gitu aku ikutan deh..
Re : ???

Kamis, 19 Februari 2009

Sedikit Bicara Laut


Posting kali ini sebenarnya adalah apresiasi (baca: komentar2) saya atas posting seorang senior (kampus dulu), yang sedang menyajikan sebuah tulisan serius tentang keadaan kelautan Indonesia. Terutama dari sisi keamanan, potensi kekayaan laut kita yang luar biasa besar, dan problema yang ada.
Tulisan-tulisan tersebut, di samping ditujukan untuk mengikuti sebuah kompetisi blog, dan karenanya cukup tajam dan kaya akan data, juga disajikan dalam rangkaian tiga artikel, yang kesemuanya, menurut saya jauh lebih dari layak untuk nampang di media publik nasional.

Karena itu tulisan ini sendiri sebenarnya tidak terlalu utuh. Dan karenanya, saya sarankan anda membaca tulisan yang saya komentari tersebut dulu.

Salah satu problem yang disorot adalah tentang kurangnya perhatian serius pemerintah terhadap infrastruktur maritim Indonesia, terutama dalam hal pengawasan keamanan di laut. Pendeknya tulisan tersebut menengarai adanya disorientasi pembangunan nasional.

Disorientasi pembangunan! Menarik istilahnya, tapi saya tidak yakin, itu penyebab satu2 nya (atau yang utama). Kemungkinan lain menurut saya adalah memang tidak optimalnya semua sektor pembangunan kita. Di (industri) darat, kita “hanya” membangun jabodetabek. Di sektor pertanian, dimana seharusnya Indonesia bisa menjadi “raja petani” dunia, petani2 kita diombang-ambingkan dengan masalah pupuk, dan proteksi/non-proteksi serta jalur distribusi (monopoli) yang tak kunjung jelas. Pertanian di sini juga sebenarnya adalah termasuk budidaya kelautan.

Yang tampak lebih jelas adalah : strategi (tepatnya, implementasi) pembangunan yang serba jangka pendek. Tidak kuat “sengsara” sesaat, untuk mendapat keuntungan yang lebih abadi..
Ini juga sangat tampak jelas di sektor Oil&Gas (dan mining).. dimana sudah hampir 50tahun, tidak juga ada perkembangan berarti dalam hal kemandirian.


Agak susah sebenarnya memberi komentar pada artikel2 laut tersebut.
Pertama, karena referensinya yg berjibun. Siapa coba yg “berani” melawan sejumlah tulisan dan buku2 serius dari pihak yg berkompeten seperti itu.
Kedua, apa yang ditulis juga tentang hal besar yg melibatkan institusi dan strategi pembangunan nasional yg tidak sederhana, paling tidak melibatkan pihak dan modal besar.
Ketiga, tulisan itu sebenarnya tidak pantas hanya ada di blog. Bukan karena tidak bermutu, tapi malah terlalu/sangat bermutu untuk tidak dipublish di media publik nasional (koran/majalah nasional).. hehe.. (terlalu memuji ada maunya... :D)

Tapi untuk sekedar memberikan opini, tanpa harus mendasarkan referensi lain, bolehlah :).
Pertama, soal visi pemimpin (pada pembangunan kemaritiman).
Tidak mudah menemukan pemimpin seperti ini, saya setuju. Disamping karena memang jarang yang secara individu punya visi maritim yang kuat, juga secara kolektif, isue pembangunan maritim ini tidak pernah (seingat saya) menjadi isu nasional. Katakanlah oleh anggota DPR, tokoh parpol, maupun tokoh masyarakat secara umum. Bahkan untuk sekedar menjadi polemik sekalipun (karena biasanya isu besar/penting disertai oleh polemik publik).
Ini beda, misalnya dengan permasalahan industri minyak/gas/tambang, insfrastruktur transportasi publik, pengaturan kembali jawa/jabodetabek dst.

Kedua,
Apa pasal sehingga isue maritim yang sebenarnya cukup strategis tersebut, jadi tidak terlalu menggema?
Saya melihatnya karena hal-hal ini :
- pembangunan maritim ini lebih banyak merupakan investasi infrastruktur yang sangat berskala jangka panjang. Artinya, ROI-nya tidak akan tercapai dan dirasakan dalam waktu cepat. Hal ini agak beda dengan infrastruktur jalan tol, misalnya, yang meskipun juga berperiode investasi jangka panjang, tapi pergerakan ‘cash-flow’nya bisa sangat nyata dirasakan investornya, karena ia (pasti) terpakai oleh penggunanya.
- karena item di atas itulah, investasi tersebut menjadi “tidak sexy” (not really interesting), bagi banyak pihak. Pihak2 di sini, bisa sangat banyak. “Politikus”, pemerintah sendiri (karena akan kesulitan mengajak pihak2 lain), juga investornya sendiri.
- Apa yang saya sebut “investor” di atas, dalam hal ini nampaknya bisa dibilang “tidak ada”. Karena pembangunan infrastruktur maritim, tidak memberikan keuntungan langsung bagi pihak ketiga (non-pemerintah). Ia hanya memberikan landscape pembangunan bagi pemerintah. Mirip dengan pembangunan insfrastruktur jalan raya (bukan tol). Karena itu, modal yang akan diinvestasikan kemungkinan besar harus datang dari APBN pemerintah, bukan dari konsorsium investasi swasta, yang biasanya terjadi untuk proyek2 besar yang strategis (dari sisi ‘pasar’). Saya tidak terlalu mengerti bagaimana “akuntansi negara” di atur, tetapi bisa kita bilang, hal itu akan menjadi problem besar bagi APBN. Karena dengan kondisi yang sekarang saja, jatah2 pos APBN untuk tiap sektor yang “mengklaim” dirinya strategis (pendidikan, pertahanan - termasuk kemaritiman ini sebenarnya, kesehatan, dst) masih “bermasalah” dari segi rasio kecukupan antara kebutuhan dan pemenuhan.
- Saya tidak terlalu mengerti bagaimana mengatasi keterbatasan “modal” di item di atas, tapi mungkin moda pinjaman luar negeri (lagi!, apa pun bentuknya), bisa menjadi solusi. Tapi sekaligus, juga akan membuat “trap” baru : kita mengharapkan kemandirian, tapi dengan cara meminta tolong orang lain lagi.
Sungguh dilema kalau seperti itu.

Demikian

----
Selebihnya, karena ini hanya komentar, beberapa komen atas komen (diskusi kecil) ini juga ada di blog empunya artikel. Terima kasih

gambar : dkp.go.id

Senin, 18 Agustus 2008

63 Tahun Merdeka

63 tahun merdeka
Doaku sederhana saja
Semoga bangsaku benar-benar merdeka

Asaku biasa saja
Semoga merdeka itu bagi semua

Impiku tiada kemana
Hanya lah merdeka yang sebenarnya

Merdeka fisik
Merdeka mental
Merdeka ekonomi
Merdeka budaya
Merdeka ilmu
Merdeka agama
Merdeka dalam ke luar
Merdeka luar ke dalam
Merdeka semuanya

63 tahun merdeka
Doaku sederhana saja
Asaku biasa saja
Impiku tiada kemana

Merdeka yang seutuhnya kata pak pemimpin
Merdeka yang kaaffah kata istilah Quran
Merdeka yang komprehensif kata orang sana

63 tahun merdeka
Doaku sederhana saja
Asaku biasa saja
Impiku tiada kemana

Begitu saja

Jumat, 08 Agustus 2008

LAISVE

Ini sebuah senandung tentang 'freedom'.
Kebebasan dari apa saja. Kemerdekaan dari belenggu. Terutama belenggu yang menyesakkan jiwa. Apalagi belenggu yang ditumpahkan oleh ketidakadilan yang dipelihara. Dan itu dimensinya bisa apa saja.

Awalnya saya hanya ingin menuliskan satu kata saja untuk yang satu ini : SUPERB!!!
Tapi itu bisa menunjukkan bahwa saya kehabisan kata2. Atau males :D.

Terus terang, ini lagu sudah membius saya. Bisa dibilang, saya jatuh cinta padanya :).
Saya bukan musicmania, tapi untuk yang satu ini, saya berani menjamin : penonton tidak akan kecewa (terutama kalau sense anda sejalur dg saya :)).

Lagu ini punya 'energi'. Dia punya daya 'magi'. Semakin didengarkan, semakin tergetar 'jiwa' kita.
Liriknya, musiknya, dan terutama penghayatannya. Suara yang keluar seakan berasal dari hati yang terdalam.
Bahkan kalau pun saya (awalnya) tidak cukup mengerti keseluruhan arti lagu (tetapi dengan pemaknaan multi yg saya 'imajikan' sendiri). Agaknya, justeru karena bahasanya yang asing, ia terdengar menjadi semacam 'mantra' yang mistis.
Saya tidak sedang 'ngecap'. Sungguh saya sudah dibuat terharu karenanya (saya malu mengatakannya, karena sebenarnya, saya mengalami lebih dari itu :D).

Sebenarnya, ini lagu mengenai datangnya kebebabasan bagi sebuah bangsa, setelah sekian lama terbelenggu 'bangsa lain'.. --hmm... pas rupanya buat sebuah 'agustusan yang serius' :).
Namun, kembali ke paragraf awal, freedom, bisa bermakna luas. Multi dimensi. Bisa mengenai bangsa, bisa terhadap kelompok, bisa ke diri sendiri, bisa ke 'sodara' di antah-berantah sana.. dsb.




Berikut liriknya:

Aš jau nepakeliu minčių apie tave!
Kaip obelis, apsunkusi nuo vaisių,
Užlaužiu tragiškai nusvirusias rankas,
O tu sakai: „Stovėk, kaip stovi laisvė!“ (2 k.)

Tai uždaryk mane, Tėvyne, savyje,
Kaip giesmę gerklėje mirtis uždaro,
Taip, kaip uždaro vakarą naktis,
O tu man atsakai: „Aš – tavo laisvė!“

O nesibaigianti kelionė į tave!
Jau kaip akmuo šalikelėj suklupęs
Aš pilku vakaru lyg samanom dengiuos,
O tu sakai: „Eik taip, kaip eina laisvė!“


dan ini translatenya :

I can’t stand my thoughts about you anymore!
Like an apple tree, holding hard fruits
My aching hands are tragically lowered down
And you say: Stand as a freedom stands!

So close me out in yourself, Homeland
Like a death closes anthem in your throat
As a night closes an evening
And you say: I’m your Freedom!

Oh never ending trip inside you!
As a stone kneeling near the road
I’m covering with a grey evening like with a moss
And you say: Go as a freedom goes!


note:
- lagu ini saya dapet dari 'pertukaran budaya kecil2an' dengan seorang teman Lithuania
- 'saran penyajian' : dengarkan sekali, dengarkan lagi, terus dan terus.. sampai anda merasakan 'chemistry' nya :).
- saya ada versi mp3nya (9mb), lebih mantep, hanya saya tidak terbiasa bertukar mp3 di arena public :)
- jangan lupa : volume nya yg cukup besar
- special thanks to : Alekkksandr (the inspirator, the translator :))

Sabtu, 26 Juli 2008

Pernikahan yang (selalu?) Mahal

Agak sedikit heboh minggu ini, dengan pemberitaan seorang anak salah satu anggota keluarga group perusahaan terkaya di Indonesia.
Blog ini tidak bermaksud ikut dalam kontroversi (klik: sekedar reff.), apalagi cemooh dan caci. Ini memang bukan blog gosip. Juga bukan blog berita. Bukan blog teknikal juga. Blog lika-liku pribadi juga bukan. Lhaa lalu blog apa yaa... eh.. kok nglantur..

Mengenai pernikahan mahal, demikianlah yang jamak terjadi. Yang jamak (umum) seharusnya memang belum tentu benar dan baik. Pun sebaliknya.

Banyak orang protes.
Saya kira sih sebanyak itu pula orang mesti memprotes ke arah 'dirinya' sendiri. 'Diri' ini bisa memang diri sendiri, yang terkait dirinya (keluarga), lingkungan dirinya, dst.. Mungkin termasuk 'diri' saya.

Berapa ukuran mahal?
Kalau sebuah keluarga dengan total asset 100juta, sanggup menyelenggarakan pesta nikah bernilai 10juta saja (10%) dari aset, apakah itu bukan kemewahan tiada tara?
OK, kita naikkan. Kalau aset sebuah keluarga itu 500juta, pesta pernikahannya 50juta (10%) ? Apa penilaian kita? Bukankah biaya nikah 30-50juta sekarang sudah sedemikian jamak terjadi?
Baiklah, kita berprasangka baik. Aset kekayaan keluarga seperti itu mungkin lebih tinggi. Mungkin mencapai 1M. Berarti 50juta itu 'hanya' 5% dari aset. Well, kita naikkan lagi, 2Milyar asetnya. Aggap saja masih 'masuk akal' sebagai rata2 aset keluarga (menengah?) di Indonesia. Kita bisa kira2 sendiri apa saja yg dipunyai : rumah, mobil, tabungan, tanah, dll. Berarti masih 'wajar'. Dan 50juta itu adalah 2.5% dari aset.

Jika kita kembalikan ke biaya pesta nikah yang 10M, itu berarti 2.5% dari 400M.
Saya kira orang banyak sudah tahu bahwa kekayaan (total aset) keluarga yang dimaksud, jauh melebihi itu.
Tolong koreksi, kalo angka2 saya salah.
Sudah lama soalnya ter'kooptasi' sama program calculator dan Excel :D.

Jadi?
Saya bukan setuju, dan menganggap normal biaya pesta yang 10M itu. Bahkan apalagi dikaitkan dengan korban lumpur.
Saya kira semua prosentase (sekali lagi, prosentase) yang seperti itu sama2 supermewah. Berlebihan. Dan seterusnya. Kita bisa punya banyak deret kata untuk itu.
Mungkin saatnya untuk sama2 koreksi diri, seberapa mewah (dan mubadzirnya) hiruk-pikuk pesta (dan hidup?) kita sehari-hari.

Salam nikah, eh salah, Salam introspeksi :).

Sabtu, 17 Mei 2008

Ku Tak Punya Kata


Ku tak punya kata lagi
BBM
Privatisasi
2009

Ku tak punya kata lagi
Ku tak punya harap lagi

Ku punya hanya niat saja lagi
Ku punya hanya kerja saja lagi

Ku tak punya kata lagi
Mau apa lagi

Sabtu, 10 Mei 2008

Sekolah Rakyat Gratis


Sudah tahu Sekolah Rakyat Indonesia kan ?
Kalau belum, silakan ke website di bawah, dan silakan sebarluaskan.

SekolahRakyat Dot Org

Berikut kutipan dari pengantar di web nya:

Latar Belakang

Krisis berkepanjangan sejak tahun 1997 yang melanda negeri ini menimbulkan keprihatinan seluruh lapisan masyarakat. Menyikapi krisis ini diperlukan upaya-upaya guna peningkatan kualitas bangsa baik dalam aspek pendidikan, sosial, kesehatan dan budaya agar bangkit dari keterpurukan. Maka pada tanggal 28 Januari 2002 berkumpulah para pemerhati pendidikan dan para profesional yang berpengalaman seperti H. Muhammad Nuh, Lc, Ir. Yanuar Arif Mahmud, MM dan Drs. A. Erlangga Masdiana, M. Krim dan Widodo, Lc dengan mendirikan Sekolah Rakyat atau SR.

Hal lain yang juga melatar belakangi berdirinya Sekolah Rakyat antara lain: Problematika penyelenggaraan pendidikan yang menyangkut Pollitical Will dari pemerintah, Keterbatasan kemampuan pemerintah, Kondisi geografis yang tidak memadai, biaya pendidikan yang relative mahal terutama bagi masyarakat yang kurang beruntung, dan pengejewantahan dari konsep gerakan pendidikan adalah Ibadah yang digagas oleh pemerintah bersama komponen pemerhati pendidikan.

Pada awalnya Program yang dijalankan Sekolah Rakyat adalah pemerataan pendidikan gratis bagi putra-putri Indonesia yaitu dengan Program Pendidikan SMP Terbuka TKB Mandiri Seluruh Indonesia saat ini lebih dari 17.100 siswa telah dibina oleh 2.185 Guru yang tersebar di 16 propinsi.

Dalam perkembangannya Sekolah Rakyat merentangkan sayapnya menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pendidikan yang bervisi menjadi pelopor bagi kemajuan pendidikan masyarakat Indonesia dengan satu harapan dapat membangun kepepedulian terhadap anak negeri demi terciptanya masyarakat dan bangsa yang berpandidikan.

Senin, 18 Februari 2008

Batamku, kau membuatku terharu

Pertama kali menginjakkan kaki di pulau Batam, aneh saja rasanya. Terbiasa dengan hiruk pikuk dan kepadatan Jabodetabek, lantas melihat tanah Batam yang cukup lengang dan masih berbukit-bukit kecil, serasa berada di 'dunia lain' :).

Jangan salah, saya tidak sedang 'gaya'. Sok Jakarte. Tidak. Asal tanah kelahiran saya justru lebih kampung : Madura :)--walaupun sebenarnya tidak kampung2 amat.
Kenapa saya agak heran adalah ternyata Batam, yang pernah saya angankan, dan dulu, terutama jaman pak Habibie sebagai Menristek, sangat 'wah' kedengarannya, ternyata saya lihat: ya 'begitu saja'.
Jangan salah sangka ya, saya tidak sedang 'merendahkan' Batam, justru situ akan kaget, bahwa saya ternyata sedang 'mengagungkan' Batam :). Makanya baca sampe selesai hehe..

Demikianlah, saya dan keluarga akhirnya menetapkan hati untuk (sementara?) berkarya dan
berkehidupan di Batam. Seperti di tulisan related sebelumnya, diluar takdir, ini juga karena semacem 'strategi' dan masih sinkron dengan keperluan keluarga. Justru terkait sinkronisasi terakhir inilah cerita ini akhirnya ada.


Singkat cerita, saya perlu mengantar nyonya untuk pertama kali pergi ke tempat tugasnya (iya,
kok ya kebetulan, nyonya diterima juga tugas di wilayah Batam). Di pulau Batam? Bukan. Di wilayah kota Batam iya, tapi di luar pulau Batam, yaitu pulau Belakang Padang. Untuk kesana kita perlu menyeberang lebih dahulu. Laut. Ya.. tentu, karena Batam, sebagai bagian dari prop.Kepulauan Riau, tentu wilayahnya juga berpulau-pulau.


Untuk ke Belakang Padang, kita perlu naik perahu mesin kecil (sejenis sampan nelayan, kalau di
jawa/madura). Orang Batam bilangnya Pancung (kapasitas 10-an orang, duduk 2-2 ke belakang), dan Pong-Pong (untuk jenis yg lebih besar, bisa 3-3). Istilah 'sampan' kayaknya dipakai untuk yang masih pakai tenaga angin (layar).
Karena saya memang orang pesisir (madura), tidak ada yang aneh pada dasarnya, kecuali karena sampan yg memang didesain khusus untuk penumpang (bukan utk nyari ikan).
Saat persiapan berangkat, sempat ngobrol kecil dengan penumpang2/pegawai/karyawan lain. Saya bilang saya serasa diingatkan ke masa kecil saya sebelum lulus SD, di pesisir Madura - main2 di pantai dan sampan nelayan (SMP/A saya di Banyuwangi). Dan, kalau seperti ini tiap hari, rasanya seperti berwisata pantai/laut tiap hari (kalo di jakarta mungkin orang ke Kep.Seribu). Tapi, perasaan saya juga masih biasa2 saja. Maklum, saya toh memang orang pantai.

Melajulah sang Pong-pong. Melintasi laut -tepatnya menyisir pantai menurut saya- karena pemandangan tidak pernah lepas sebenarnya dari garis daratan. Saat kecil dulu, yang saya tahu ketika lepas dari pantai, maka kita akan menuju lautan lepas, hampir sulit melihat tepi daratan. Saat terbiasa menyeberang Jawa-Madura pun (juga jawa-bali), yang terasa adalah lepas dari satu daratan, untuk beberapa lama kemudian mencapai daratan yang lain. Tidak lebih. Tidak istimewa.


Perasaan 'biasa' seperti itu ternyata tidak terjadi saat saya 'meninggalkan' daratan Batam, menuju Belakang Padang. Di tengah2 laut (yg tidak terlalu jauh dari pantai itu), saya sudah bisa menikmati pemandangan pulau lain - Sambu. Sembari masih bisa memandang daratan Batam. Lewat sedikit dari itu, saya juga sudah bisa memandang pulau tujuan - Belakang Padang. Waah.. saya bisa 'memandang' 3 pulau sekaligus hanya dalam beberapa menit. Dan.. di depan nya sudah terpampang 1 pulau lagi yang lebih kecil. wah.. 4 pulau hanya dalam hitungan menit!!. Bukan karena Pong-pongya yang extra cepat, tapi karena pulau2 itu yang memang saling berdekatan.

Luar Biasa!!
Saat SD/SMP kita selalu didengung2kan bahwa negara kita terdiri dari ribuan pulau--sekitar 17ribuan (masihkah?). Luar biasa. Saya baru saja menikmati 4 pulau dalam hitungan menit. Dan uniknya itu loh.. semuanya bisa saling 'memandang'!! Bisa saling terlihat hanya dengan 'bergeser' beberapa menit di tengah laut.
Hal seperti ini tidak terjadi ketika kita menyeberang Jawa-Madura atau Jawa-Bali misalnya. Dan mungkin beda 'nilainya' dengan orang yang memang berniat pergi berwisata antar pulau2 (di Kep.Seribu, mgkin, saya sendiri belum pernah). Karena orang-orang ini memang menjalani kehidupannya setiap hari seperti ini. Bolak-balik pulau2 tiap hari.
Saya benar2 merasa seperti 'orang kepulauan'. Ya.. orang2 Indonesia adalah orang2 kepulauan. Kita adalah 'orang kepulauan'. Dan.. asyiknya itu loh.. Pulau2 itu saling terlihat. Mereka seakan bisa digapai se-sebentangan tangan. Mereka (pulau2 itu) seakan bisa kita rengkuh. Kita peluk, dan kita saling berlompatan di antaranya. Sungguh mengasyikkan.



Saya cuman baru melintasi 4 pulau, dalam +- 20menitan. Lalu bagaimana dengan ratusan/ribuan pulau lainnya di Kepulauan Riau? Lalu bagaimana dengan 17ribu pulau di
Indonesia? Yang puluhan/ratusan di antaranya saling 'bersentuhan', saling bisa 'direngkuh' satu sama lain. Ah.. demikian indahnya.
Negeri ini memang sangat indah. Negeri ini memang sangat kaya, penuh pesona. Saya terharu dibuatnya.
Saya hampir-hampir menangis (kyknya sudah, dlm hati), memikirkan, kenapa negeri sekaya dan seindah ini masih begini2 saja keadaanya. Kenapa... Kenapa... dst..


--

Kisah di atas sebenarnya terjadi +- 2 tahun yang lalu. Dan setelah beberapa kali bolak-balik Belakang Padang, karena beberapa urusan, perasaaan saya masih mirip. Anehnya itu tidak terlalu terasa ketika saya jalan2 melintasi beberapa pulau di Barelang (yang juga menghubungkan 7 pulau2 kecil - mgkin karena tidak melihat tepi2 pulau itu dari sisi laut, pula, beda kyknya kalau melihat dari atas). Pun, terakhir, saat Januari '08 lalu (saat foto2 di sini diambil), perasaan itu juga masih sama dan semakin bertumbuh. Mungkin karena sedemikian gregetannya saya (juga mungkin anda), melihat negeri kaya tapi 'begini2 saja' ini :(.

--epilog
Ngomong2, kenapa judulnya 'Batamku..' ya? (pake 'ku'?). Bukankah saya bukan penduduk asli Batam ? Berniat untuk terus tinggal pun, (terus terang) masih fifty2. Lalu kenapa 'ku..'?
Iya.. bukankah saya (dan anda) boleh bilang 'negeriku', bangsaku, 'Indonesiaku'?. Nha Batam kan termasuk Kepri, dan Kepri adalah bagian Indonesia. Jadi boleh dong saya klaim sebagai punya'ku' :). Saya kira anda juga boleh.. Dan kapan2, silakan mampir ke Batam, dan kita jalan2 menikmati indahnya menjadi 'orang kepulauan', the nusantara, Indonesian Archipelago, the most beautiful Archipelago Country in the world :)

Minggu, 27 Januari 2008

Pak Harto telah pergi

Rasanya pasti banyak bertaburan tulisan
Rasanya tidak perlu menambah satu lagi
Tapi rasanya ada yang terlewat

27 Januari 2008, 13.10, Pak Harto meninggal dunia

Innalillaahi wa Innaa Ilaihi Rooji'uun
Semuanya akan kembali kepadaNya

Ada duka
Ada suka ?

Selaksa bunga
Seluas noda

Berbilang jasa
Bertumpuk dosa

Ada cinta, cinta mati
Karna hati yang tuli

Ada benci, benci batu
Karna hati yang beku

Biarlah
Kita serahkan pada ahlinya

Biarlah
Kita serahkan padaNya
Semuanya

Selamat Jalan pak Harto
(rasa hilang itu... tak teredam jua... ???)

Sabtu, 22 Desember 2007

Etos Kerja Bangsa Indonesia Rendah ?

Cukup jamak didengar bahwa salah satu penyebab keterbelakangan ekonomi Indonesia adalah karena etos kerja masyarakat yang rendah. Apalagi bila dibandingkan dengan etos kerja masyarakat Asia-timur (Jepang, Cina, Korea) , Eropa dan Amerika.
Saya agak kwatir ketika kita bicara etos kerja , dan sedikit banyak menyimpulkan etos kerja bangsa Indonesia itu rendah, maka puluhan juta orang akan semakin sedih dan (atau) jangan2 marah. Point saya benarkah etos kerja bangsa Indonesia rendah ? Apakah keterpurukan (kemiskinan/kebodohan/keterbelakangan) mereka disebabkan oleh etos kerja yang rendah..
Saya menduga kok tidak.

Di Jawa/madura (dan saya kira di pulau2 lain juga) sudah biasa kita tahu para petani/nelayan tradisional sejak sebelum subuh sudah beraktifitas. Juga para pedagang kecil-menengah di pasar2 tradisional, sejak pagi2 buta pasar sudah rame.
Yang di laut juga begitu, petang/malam atau subuh mereka sudah melaut, dibantu istri menyiapkan segalanya, baru pagi atau siang kembali ke pantai, dengan atau tanpa hasil (ngenes kalo liat -- krn saya orang pesisir).
Sedang para istri mereka coba membantu dengan usaha kecil2an, yang bisa untung 10ribu sehari saja sudah sangat disyukuri.


Para pekerja pabrik atau pegawai menengah-bawah juga begitu. Dari pagi sampai malam berjuang untuk memperoleh sekedar tambahan OT yg bisa2 sangat rendah.
Para pekerja sektor informal lebih berbau 'pejuang' lagi. Tanpa bantuan siapa2, tanpa fasilitas apa2, keleleran di depan toko dan pinggir jalan, dioprak2 tramtib, masih bisa bertahan dan menghidupi keluarga.
dst..

Nha dengan cerita seperti itu, tidak faktual rasanya kalo dibilang etos kerja bangsa Indonesia rendah.
Lalu dari mana datangnya keterbelakangan itu?
Saya kira jawabannya : system-lah yg membuat mereka seperti itu.
System Politik-Ekonomi, system birokrat, system pendidikan, system distribusi peluang, dst.. dsb...
Belum lagi penyakit yang sudah kanker stadium-3 : KKN. Malah bisa jadi inilah yg paling mendasar.

Bukan bermaksud melulu menyalahkan pemerintah, tapi semua lapis masyarakat mgkin punya prosentase sumbangan sendiri2, termasuk untuk memperbaikinya.

Bagaimana menurut Anda ?