photo '..from NoWhere to SomeWhere..' by ak
Tampilkan postingan dengan label Socio-Cultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Socio-Cultura. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Februari 2014
Cerita Foto - Geoje-si , South Korea - [draft]
Tentang toilet Digital hotel yang sedikit bikin bingung ..
Nha, ada yang membantu cerita di sini :
Tentang nekad nyari jalur bus di hari ke-3 dengan tulisan cakar-ayam, berakhir dengan nyari taxi setelah jalan 3km, berkeringat di kala winter
Geoje island, pulau industrial, selatan Busan, bagian selatan dari South Korea
Kota Okpo dan Geoje-si yang tidak kecil2 amat.
Sepanjang pulau yg sebenarnya "terpencil" ini (mirip Batam terhadap jakarta), sepanjang jalan yg (sudah) dilalui, banyak 'tertanam' kompleks industri
Tentang parkir yg tidak serapi daerah2 di Singapore. Parkir makan bahu jalan, tetapi tetap tidak sampai bikin semrawut
Tentang Supermarket 'terbesar' di Okpo-dong, yg nyatanya hanya sedikit lebih besar dari Alfa/Indo mart di Indo
Tentang, agak repotnya mau mengexplore daerah2 baru, seperti daerah2 di Eropa/Australi, atau yg terbiasa dengan bhs Inggris bagi masyarakatnya.
Tentang jalan2 di (tengah2 perkampungan) kota yg tidak terlalu besar, bahkan sempit, tapi tidak macet
Rupanya sedang dibangun mall yg lebih besar, mungkin
Labels:
Cerita Foto,
Socio-Cultura,
Untuk Anakku
Selasa, 23 Desember 2008
D3 - part 1
Dialog Dengan Diri (D3)
Sebuah rangkai tanya dan asa dalam pergantian masa
Hai, kamu baik2 aja?
Baik.
Tapi kamu ndak ceria?
Siapa bilang kabar baik harus ceria?
Hmm.. kenapa gitu?
Kalo kamu bilang baik itu ceria, berarti yang punya kabar baik terus selalu artis dong. Kecuali ia lagi berakting sedih. Padahal siapa jamin, sang artis punya kabar yang baik?
Jadi, baik itu gimana?
Ya.. tergantung ukuranmu dong.
Wah.. kamu sih ndak mau jawab itu.
Baik dan tidak itu kan menyangkut keadaan. Bisa hati bisa fisik, bisa dua-duanya. Itu juga tergantung standar-standar hidupmu. Kalau ceria atau tidak kan terkait ungkapan fisik. Apa yang keliatan dari luar. Raut muka, gerak tubuh, intonasi suara. Apa kamu mengira seorang ibu yang menangis bahagia saat anaknya menikah, itu sedang tidak baik keadaannya? Apa kamu mengira seorang yang tiba-tiba menari-nari melompat girang di jalanan itu pasti sedang baik keadaannya? Jangan-jangan malah ia tidak berhenti melakukannya sepanjang hari dan minggu :P.
Rabu, 29 Oktober 2008
Pengen Nonton Film Bagus (adakah?)

Buat temen-temen yang kecewa karena blog nya nganggur, buat beberapa biji klik yang kesasar, dan buat siapa aja yang setia menemani (wix..), selamat berjumpa kembali. InsyaAllah kondisi hiatus nya tidak akan dibiarkan berlama-lama lagi (masak sih? Janji mulu :)).
Mengutip seorang rekan, sebenarnya selama ini saya masih aktif jadi penulis :P : kadang nulis sms, kadang nulis ucapan bos, kadang nulis email, kadang blog, sering juga nulis milis (lha jadi penulis benerannya kapan ya?).
Nha, yang terakhir ini yang sebenarnya cukup ‘mewakili’ absensi saya di dunia blog. Dan.. kalo boleh saya buka rahasia dikit :), blog ini ada salah satunya karena untuk menampung “napsu” ngoceh, eh nulis, saya di milis-milis.
Hmm.. karena itu, saya ingin mengangkatnya (ah kayak novel mo difilem-in) saja ke sini. Ada yg mungkin akan saya edit dan mark-up, eh make-up, ada yang apa adanya, ada yg sedikiiit sekali editnya. Seperti di bawah ini.
………….
Baru (xxsemingguxx) beberapa minggu lalu saya nanya ke milis (ex) kampus, tentang semakin hebatnya Dubai dalam membangun infrastruktur2 kelas atas, seperti hotel, bangunan2 megah dan mewah, dan macem2nya. Seakaan2 kemewahan Dubai tak tertandingi di dunia.
Saya nanya ke forum, apa memang benar secara ekonomi (macro) TimurTengah (khususnya Dubai tadi) sudah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia (secara keseluruhan : fundamental, produktif, konsumtif..). Karena katanya satu2 nya liquid fund (dana yg bisa dicairkan segera?), itu hanya ada di Timur Tengah. Sedang Amrik lagi pingsan, Eropa mungkin terseret, Cina baru mulai bangun... dst.
Seorang senior di situ, memberi jawaban dengan simple : sudah nonton film Syriana ? Karena katanya film itu berdasarkan rumor yg benar,dan terkait pertanyaan di atas. Wah.. saya sih kayaknya pernah nonton, tapi cuman sepotong2. Karena dalam beberapa bulan terakhir, saya cukup males nonton.
Terus terang sedikit sekali film2 (besar dan terkenal) pun yg bisa bikin saya fully impressed (sangat terkesan). Apalagi film Indonesia. Sejak jaman kuliah, sampe sekarang, film yg paling berkesan bagi saya adalah "Devil Advocate" (Al-Pacino & Keanu Reeves). Itu sekitar tahun1997-an.Bukan karena para actornya mirip saya (hehehe..). tapi ada sesuatu difilm itu yg bisa saya ambil 'ajaran dasarnya'. Cobalah tonton...mungkin anda bisa punya pengalaman yg sama. Mungkin juga tidak, seperti teman saya dulu yang merasa 'saya tipu' :D.
Begitu banyak film2 terkenal yg kata orang bagus... bikin saya kecewa.. krn tidak ada sesuatu yg bisa membuat saya ter-impresi karenanya. Yang ada adalah saya jadi 'sombong' : wah.. kalo cuman gitu sih, saya bisa bikinnya :D. Apalagi film Indonesia.. apalagi kelas sinetron :P.
Makanya sampe sekarang saya belum berminat nonton LP (baca novelnya separu) maupun AAC (baca novelnya full, walo telat). Hmm.. tapi ingat2 saran tentang Syriana, kayaknya saya mesti berpikir lagi : mulai lagi nonton film2 (bagus).
Siapa mau ? atau ada saran?
Salam,
Tontowi
JurongEast,Oct08
Mengutip seorang rekan, sebenarnya selama ini saya masih aktif jadi penulis :P : kadang nulis sms, kadang nulis ucapan bos, kadang nulis email, kadang blog, sering juga nulis milis (lha jadi penulis benerannya kapan ya?).
Nha, yang terakhir ini yang sebenarnya cukup ‘mewakili’ absensi saya di dunia blog. Dan.. kalo boleh saya buka rahasia dikit :), blog ini ada salah satunya karena untuk menampung “napsu” ngoceh, eh nulis, saya di milis-milis.
Hmm.. karena itu, saya ingin mengangkatnya (ah kayak novel mo difilem-in) saja ke sini. Ada yg mungkin akan saya edit dan mark-up, eh make-up, ada yang apa adanya, ada yg sedikiiit sekali editnya. Seperti di bawah ini.
………….
Baru (xxsemingguxx) beberapa minggu lalu saya nanya ke milis (ex) kampus, tentang semakin hebatnya Dubai dalam membangun infrastruktur2 kelas atas, seperti hotel, bangunan2 megah dan mewah, dan macem2nya. Seakaan2 kemewahan Dubai tak tertandingi di dunia.
Saya nanya ke forum, apa memang benar secara ekonomi (macro) TimurTengah (khususnya Dubai tadi) sudah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia (secara keseluruhan : fundamental, produktif, konsumtif..). Karena katanya satu2 nya liquid fund (dana yg bisa dicairkan segera?), itu hanya ada di Timur Tengah. Sedang Amrik lagi pingsan, Eropa mungkin terseret, Cina baru mulai bangun... dst.
Seorang senior di situ, memberi jawaban dengan simple : sudah nonton film Syriana ? Karena katanya film itu berdasarkan rumor yg benar,dan terkait pertanyaan di atas. Wah.. saya sih kayaknya pernah nonton, tapi cuman sepotong2. Karena dalam beberapa bulan terakhir, saya cukup males nonton.
Terus terang sedikit sekali film2 (besar dan terkenal) pun yg bisa bikin saya fully impressed (sangat terkesan). Apalagi film Indonesia. Sejak jaman kuliah, sampe sekarang, film yg paling berkesan bagi saya adalah "Devil Advocate" (Al-Pacino & Keanu Reeves). Itu sekitar tahun1997-an.Bukan karena para actornya mirip saya (hehehe..). tapi ada sesuatu difilm itu yg bisa saya ambil 'ajaran dasarnya'. Cobalah tonton...mungkin anda bisa punya pengalaman yg sama. Mungkin juga tidak, seperti teman saya dulu yang merasa 'saya tipu' :D.
Begitu banyak film2 terkenal yg kata orang bagus... bikin saya kecewa.. krn tidak ada sesuatu yg bisa membuat saya ter-impresi karenanya. Yang ada adalah saya jadi 'sombong' : wah.. kalo cuman gitu sih, saya bisa bikinnya :D. Apalagi film Indonesia.. apalagi kelas sinetron :P.
Makanya sampe sekarang saya belum berminat nonton LP (baca novelnya separu) maupun AAC (baca novelnya full, walo telat). Hmm.. tapi ingat2 saran tentang Syriana, kayaknya saya mesti berpikir lagi : mulai lagi nonton film2 (bagus).
Siapa mau ? atau ada saran?
Salam,
Tontowi
JurongEast,Oct08
Rabu, 01 Oktober 2008
Mohon Maaf Semesta
kepada engkau yang pernah aku sakiti
kepada engkau yang sering aku kasari
kepada engkau yang susah aku senyumi
aku meminta maafmu
kepada beliau yang aku harap doanya
kepada saudara yang tak habis cintanya
kepada sang kinasih yang tak bosan bersama
kepada sahabat yang tak alpa dalam suka duka
aku junjungkan kata maafku
kepada mereka yang kerap aku cueki
kepada mereka yang gampang aku sindiri
kepada mereka yang tak jarang aku kata-katai
aku memohon maafmu
kepada forum-forum yang kusombongi dengan atau tak sengaja
kepada komunitas maya yang berbagi ilmu dengan bahagia
kepada masyarakat dunia yang tanpa malu ku bertanya
aku kan harap didera maafmu
kepada sang waktu yang tak kunjung kupenuhi hak-hak hakiki
kepada sang mentari yang kulewati saja hari demi hari
kepada sang bulan yang sering terjalani tanpa arti
kepada sang bintang yang tak kusapa tanpa tahu diri
aku haturkan maafku
kepada sang Pemilik para engkau
kepada sang Pencipta para beliau
kepada sang Penyayang 'para' mereka
kepada sang Pengayom komunitas apa saja
kepada sang Penguasa galaxi para bintang
daku memohon rido dan ampunMu
duhh...
kepada engkau yang sering aku kasari
kepada engkau yang susah aku senyumi
aku meminta maafmu
kepada beliau yang aku harap doanya
kepada saudara yang tak habis cintanya
kepada sang kinasih yang tak bosan bersama
kepada sahabat yang tak alpa dalam suka duka
aku junjungkan kata maafku
kepada mereka yang kerap aku cueki
kepada mereka yang gampang aku sindiri
kepada mereka yang tak jarang aku kata-katai
aku memohon maafmu
kepada forum-forum yang kusombongi dengan atau tak sengaja
kepada komunitas maya yang berbagi ilmu dengan bahagia
kepada masyarakat dunia yang tanpa malu ku bertanya
aku kan harap didera maafmu
kepada sang waktu yang tak kunjung kupenuhi hak-hak hakiki
kepada sang mentari yang kulewati saja hari demi hari
kepada sang bulan yang sering terjalani tanpa arti
kepada sang bintang yang tak kusapa tanpa tahu diri
aku haturkan maafku
kepada sang Pemilik para engkau
kepada sang Pencipta para beliau
kepada sang Penyayang 'para' mereka
kepada sang Pengayom komunitas apa saja
kepada sang Penguasa galaxi para bintang
daku memohon rido dan ampunMu
duhh...
Selamat Iedul Fitri 1429H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Batam, 1 Syawal 1429H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Batam, 1 Syawal 1429H
Senin, 18 Agustus 2008
63 Tahun Merdeka
63 tahun merdekaDoaku sederhana saja
Semoga bangsaku benar-benar merdeka
Asaku biasa saja
Semoga merdeka itu bagi semua
Impiku tiada kemana
Hanya lah merdeka yang sebenarnya
Merdeka fisik
Merdeka mental
Merdeka ekonomi
Merdeka budaya
Merdeka ilmu
Merdeka agama
Merdeka dalam ke luar
Merdeka luar ke dalam
Merdeka semuanya
63 tahun merdeka
Doaku sederhana saja
Asaku biasa saja
Impiku tiada kemana
Merdeka yang seutuhnya kata pak pemimpin
Merdeka yang kaaffah kata istilah Quran
Merdeka yang komprehensif kata orang sana
63 tahun merdeka
Doaku sederhana saja
Asaku biasa saja
Impiku tiada kemana
Begitu saja
Jumat, 08 Agustus 2008
LAISVE
Ini sebuah senandung tentang 'freedom'.
Kebebasan dari apa saja. Kemerdekaan dari belenggu. Terutama belenggu yang menyesakkan jiwa. Apalagi belenggu yang ditumpahkan oleh ketidakadilan yang dipelihara. Dan itu dimensinya bisa apa saja.
Awalnya saya hanya ingin menuliskan satu kata saja untuk yang satu ini : SUPERB!!!
Tapi itu bisa menunjukkan bahwa saya kehabisan kata2. Atau males :D.
Terus terang, ini lagu sudah membius saya. Bisa dibilang, saya jatuh cinta padanya :).
Saya bukan musicmania, tapi untuk yang satu ini, saya berani menjamin : penonton tidak akan kecewa (terutama kalau sense anda sejalur dg saya :)).
Lagu ini punya 'energi'. Dia punya daya 'magi'. Semakin didengarkan, semakin tergetar 'jiwa' kita.
Liriknya, musiknya, dan terutama penghayatannya. Suara yang keluar seakan berasal dari hati yang terdalam.
Bahkan kalau pun saya (awalnya) tidak cukup mengerti keseluruhan arti lagu (tetapi dengan pemaknaan multi yg saya 'imajikan' sendiri). Agaknya, justeru karena bahasanya yang asing, ia terdengar menjadi semacam 'mantra' yang mistis.
Saya tidak sedang 'ngecap'. Sungguh saya sudah dibuat terharu karenanya (saya malu mengatakannya, karena sebenarnya, saya mengalami lebih dari itu :D).
Sebenarnya, ini lagu mengenai datangnya kebebabasan bagi sebuah bangsa, setelah sekian lama terbelenggu 'bangsa lain'.. --hmm... pas rupanya buat sebuah 'agustusan yang serius' :).
Namun, kembali ke paragraf awal, freedom, bisa bermakna luas. Multi dimensi. Bisa mengenai bangsa, bisa terhadap kelompok, bisa ke diri sendiri, bisa ke 'sodara' di antah-berantah sana.. dsb.
Berikut liriknya:
dan ini translatenya :
note:
- lagu ini saya dapet dari 'pertukaran budaya kecil2an' dengan seorang teman Lithuania
- 'saran penyajian' : dengarkan sekali, dengarkan lagi, terus dan terus.. sampai anda merasakan 'chemistry' nya :).
- saya ada versi mp3nya (9mb), lebih mantep, hanya saya tidak terbiasa bertukar mp3 di arena public :)
- jangan lupa : volume nya yg cukup besar
- special thanks to : Alekkksandr (the inspirator, the translator :))
Kebebasan dari apa saja. Kemerdekaan dari belenggu. Terutama belenggu yang menyesakkan jiwa. Apalagi belenggu yang ditumpahkan oleh ketidakadilan yang dipelihara. Dan itu dimensinya bisa apa saja.
Awalnya saya hanya ingin menuliskan satu kata saja untuk yang satu ini : SUPERB!!!
Tapi itu bisa menunjukkan bahwa saya kehabisan kata2. Atau males :D.
Terus terang, ini lagu sudah membius saya. Bisa dibilang, saya jatuh cinta padanya :).
Saya bukan musicmania, tapi untuk yang satu ini, saya berani menjamin : penonton tidak akan kecewa (terutama kalau sense anda sejalur dg saya :)).
Lagu ini punya 'energi'. Dia punya daya 'magi'. Semakin didengarkan, semakin tergetar 'jiwa' kita.
Liriknya, musiknya, dan terutama penghayatannya. Suara yang keluar seakan berasal dari hati yang terdalam.
Bahkan kalau pun saya (awalnya) tidak cukup mengerti keseluruhan arti lagu (tetapi dengan pemaknaan multi yg saya 'imajikan' sendiri). Agaknya, justeru karena bahasanya yang asing, ia terdengar menjadi semacam 'mantra' yang mistis.
Saya tidak sedang 'ngecap'. Sungguh saya sudah dibuat terharu karenanya (saya malu mengatakannya, karena sebenarnya, saya mengalami lebih dari itu :D).
Sebenarnya, ini lagu mengenai datangnya kebebabasan bagi sebuah bangsa, setelah sekian lama terbelenggu 'bangsa lain'.. --hmm... pas rupanya buat sebuah 'agustusan yang serius' :).
Namun, kembali ke paragraf awal, freedom, bisa bermakna luas. Multi dimensi. Bisa mengenai bangsa, bisa terhadap kelompok, bisa ke diri sendiri, bisa ke 'sodara' di antah-berantah sana.. dsb.
Berikut liriknya:
Aš jau nepakeliu minčių apie tave!
Kaip obelis, apsunkusi nuo vaisių,
Užlaužiu tragiškai nusvirusias rankas,
O tu sakai: „Stovėk, kaip stovi laisvė!“ (2 k.)
Tai uždaryk mane, Tėvyne, savyje,
Kaip giesmę gerklėje mirtis uždaro,
Taip, kaip uždaro vakarą naktis,
O tu man atsakai: „Aš – tavo laisvė!“
O nesibaigianti kelionė į tave!
Jau kaip akmuo šalikelėj suklupęs
Aš pilku vakaru lyg samanom dengiuos,
O tu sakai: „Eik taip, kaip eina laisvė!“
Kaip obelis, apsunkusi nuo vaisių,
Užlaužiu tragiškai nusvirusias rankas,
O tu sakai: „Stovėk, kaip stovi laisvė!“ (2 k.)
Tai uždaryk mane, Tėvyne, savyje,
Kaip giesmę gerklėje mirtis uždaro,
Taip, kaip uždaro vakarą naktis,
O tu man atsakai: „Aš – tavo laisvė!“
O nesibaigianti kelionė į tave!
Jau kaip akmuo šalikelėj suklupęs
Aš pilku vakaru lyg samanom dengiuos,
O tu sakai: „Eik taip, kaip eina laisvė!“
dan ini translatenya :
I can’t stand my thoughts about you anymore!
Like an apple tree, holding hard fruits
My aching hands are tragically lowered down
And you say: Stand as a freedom stands!
So close me out in yourself, Homeland
Like a death closes anthem in your throat
As a night closes an evening
And you say: I’m your Freedom!
Oh never ending trip inside you!
As a stone kneeling near the road
I’m covering with a grey evening like with a moss
And you say: Go as a freedom goes!
Like an apple tree, holding hard fruits
My aching hands are tragically lowered down
And you say: Stand as a freedom stands!
So close me out in yourself, Homeland
Like a death closes anthem in your throat
As a night closes an evening
And you say: I’m your Freedom!
Oh never ending trip inside you!
As a stone kneeling near the road
I’m covering with a grey evening like with a moss
And you say: Go as a freedom goes!
note:
- lagu ini saya dapet dari 'pertukaran budaya kecil2an' dengan seorang teman Lithuania
- 'saran penyajian' : dengarkan sekali, dengarkan lagi, terus dan terus.. sampai anda merasakan 'chemistry' nya :).
- saya ada versi mp3nya (9mb), lebih mantep, hanya saya tidak terbiasa bertukar mp3 di arena public :)
- jangan lupa : volume nya yg cukup besar
- special thanks to : Alekkksandr (the inspirator, the translator :))
Sabtu, 26 Juli 2008
Pernikahan yang (selalu?) Mahal
Agak sedikit heboh minggu ini, dengan pemberitaan seorang anak salah satu anggota keluarga group perusahaan terkaya di Indonesia.Blog ini tidak bermaksud ikut dalam kontroversi (klik: sekedar reff.), apalagi cemooh dan caci. Ini memang bukan blog gosip. Juga bukan blog berita. Bukan blog teknikal juga. Blog lika-liku pribadi juga bukan. Lhaa lalu blog apa yaa... eh.. kok nglantur..
Mengenai pernikahan mahal, demikianlah yang jamak terjadi. Yang jamak (umum) seharusnya memang belum tentu benar dan baik. Pun sebaliknya.
Banyak orang protes.
Saya kira sih sebanyak itu pula orang mesti memprotes ke arah 'dirinya' sendiri. 'Diri' ini bisa memang diri sendiri, yang terkait dirinya (keluarga), lingkungan dirinya, dst.. Mungkin termasuk 'diri' saya.
Berapa ukuran mahal?
Kalau sebuah keluarga dengan total asset 100juta, sanggup menyelenggarakan pesta nikah bernilai 10juta saja (10%) dari aset, apakah itu bukan kemewahan tiada tara?
OK, kita naikkan. Kalau aset sebuah keluarga itu 500juta, pesta pernikahannya 50juta (10%) ? Apa penilaian kita? Bukankah biaya nikah 30-50juta sekarang sudah sedemikian jamak terjadi?
Baiklah, kita berprasangka baik. Aset kekayaan keluarga seperti itu mungkin lebih tinggi. Mungkin mencapai 1M. Berarti 50juta itu 'hanya' 5% dari aset. Well, kita naikkan lagi, 2Milyar asetnya. Aggap saja masih 'masuk akal' sebagai rata2 aset keluarga (menengah?) di Indonesia. Kita bisa kira2 sendiri apa saja yg dipunyai : rumah, mobil, tabungan, tanah, dll. Berarti masih 'wajar'. Dan 50juta itu adalah 2.5% dari aset.
Jika kita kembalikan ke biaya pesta nikah yang 10M, itu berarti 2.5% dari 400M.
Saya kira orang banyak sudah tahu bahwa kekayaan (total aset) keluarga yang dimaksud, jauh melebihi itu.
Tolong koreksi, kalo angka2 saya salah.
Sudah lama soalnya ter'kooptasi' sama program calculator dan Excel :D.
Jadi?
Saya bukan setuju, dan menganggap normal biaya pesta yang 10M itu. Bahkan apalagi dikaitkan dengan korban lumpur.
Saya kira semua prosentase (sekali lagi, prosentase) yang seperti itu sama2 supermewah. Berlebihan. Dan seterusnya. Kita bisa punya banyak deret kata untuk itu.
Mungkin saatnya untuk sama2 koreksi diri, seberapa mewah (dan mubadzirnya) hiruk-pikuk pesta (dan hidup?) kita sehari-hari.
Salam nikah, eh salah, Salam introspeksi :).
Jumat, 18 Juli 2008
Patung Menarik - Knutsen
Sabtu, 28 Juni 2008
Sshny Nntn Er8 d Ngr Er
Ini sebenarnya semacam 'curhat' :), tapi mungkin ada 'maknanya'.
Sebelum berangkat ke daerah asing ini, disamping banyak hal lain yg terpikir, terbersit bayangan bahwa saya bakal menikmati hebohnya siaran tv Euro2008. Gimana tidak lebih heboh, wong di Indonesia saja, hebohnya ndak ketulungan. Apalagi di salah satu negeri Eropa. waah.. pasti jauh lebih dahsyat. Walaupun itu hanya di TV atau area2 publik non stadion.
Sangkaan saya salah. Saltot - salah total.
Saat nanya2 ke orang2 kantor dan temen2 training, apakah mereka sedang menikmati Euro2008, bisa dibilang tidak ada satu pun yang menjawab positip. Hanya satu dua yang bilang : yaa.. kadang2. Wah, kok bisa ?
Saya cuek saja. Ok, kalaupun orang tidak sedang berhisteria, toh saya tetap bisa menikmatinya sendiri. Bahkan kalaupun 4 orang lain di guest house, dengan kulit dan rambut beda2 itu, juga cuek-cuek saja. Bahkan keluar satu kata "Euro" pun tidak pernah.
Tetapi ternyata "penderitaan" saya tidak hanya sebatas tiadanya teman. Ketika mencoba mencari chanel tv yang menyiarkan langsung Euro2008, dada saya seakan berdegup keras. Bagaimana tidak. Ada secara total 400an chanel yang tersedia, paling tidak terdaftar di tv itu. Walaupun sebagian besar berisi "semut", dan sebagiannya lagi dobel2/sama.Ternyata nihil. Tidak satupun saya temukan yang sedang live Euro08. Ada beberapa saluran sport, seperti EuroSport. Tapi malah dia banyak siaran atuo-sport, tenis, atau malah tunggang kuda. Euronya hanya sebatas berita ataupun siaran tunda.
Keringat dingin saya mulai keluar. Wah.. besok Italy lawan Perancis (saat itu), masak gak nonton.. ?
"Tidak percaya* lagi sama itu tv, akhirnya saya banting setir. Yahh.. nyari on-line tv internet yang free saja. Perburuan dimulai. Tidak gampang. Googling sana, googling sini. Install ini, install itu. Walaupun akhirnya ketemu. Memakailah saya "Sopcast". Dapat juga. Tidak sempurna, tidak bisa large-size, pakai Spanyol atau German lagi, mana saya ngerti. Yang english saja sudah 'megap2' haha. Juga tidak sepenuhnya live. Karena ketika sambil chatting dengan teman yang di Dusseldorf, dia bilang Italy sudah 2-0. Di Sopcast kok belum yaa ? :DD. Baru 2-3 menit kemudian gol. Yaa tidak apa-apa. Tidak ada akar, serabut pun jadi lah.
Sebelum berangkat ke daerah asing ini, disamping banyak hal lain yg terpikir, terbersit bayangan bahwa saya bakal menikmati hebohnya siaran tv Euro2008. Gimana tidak lebih heboh, wong di Indonesia saja, hebohnya ndak ketulungan. Apalagi di salah satu negeri Eropa. waah.. pasti jauh lebih dahsyat. Walaupun itu hanya di TV atau area2 publik non stadion.
Sangkaan saya salah. Saltot - salah total.
Saat nanya2 ke orang2 kantor dan temen2 training, apakah mereka sedang menikmati Euro2008, bisa dibilang tidak ada satu pun yang menjawab positip. Hanya satu dua yang bilang : yaa.. kadang2. Wah, kok bisa ?
Saya cuek saja. Ok, kalaupun orang tidak sedang berhisteria, toh saya tetap bisa menikmatinya sendiri. Bahkan kalaupun 4 orang lain di guest house, dengan kulit dan rambut beda2 itu, juga cuek-cuek saja. Bahkan keluar satu kata "Euro" pun tidak pernah.
Tetapi ternyata "penderitaan" saya tidak hanya sebatas tiadanya teman. Ketika mencoba mencari chanel tv yang menyiarkan langsung Euro2008, dada saya seakan berdegup keras. Bagaimana tidak. Ada secara total 400an chanel yang tersedia, paling tidak terdaftar di tv itu. Walaupun sebagian besar berisi "semut", dan sebagiannya lagi dobel2/sama.Ternyata nihil. Tidak satupun saya temukan yang sedang live Euro08. Ada beberapa saluran sport, seperti EuroSport. Tapi malah dia banyak siaran atuo-sport, tenis, atau malah tunggang kuda. Euronya hanya sebatas berita ataupun siaran tunda.
Keringat dingin saya mulai keluar. Wah.. besok Italy lawan Perancis (saat itu), masak gak nonton.. ?
"Tidak percaya* lagi sama itu tv, akhirnya saya banting setir. Yahh.. nyari on-line tv internet yang free saja. Perburuan dimulai. Tidak gampang. Googling sana, googling sini. Install ini, install itu. Walaupun akhirnya ketemu. Memakailah saya "Sopcast". Dapat juga. Tidak sempurna, tidak bisa large-size, pakai Spanyol atau German lagi, mana saya ngerti. Yang english saja sudah 'megap2' haha. Juga tidak sepenuhnya live. Karena ketika sambil chatting dengan teman yang di Dusseldorf, dia bilang Italy sudah 2-0. Di Sopcast kok belum yaa ? :DD. Baru 2-3 menit kemudian gol. Yaa tidak apa-apa. Tidak ada akar, serabut pun jadi lah.
Demikianlah.
"Misi" pribadi untuk nonton sepuasnya (meski di tv) Euro2008 saya kubur dalam2. Jangankan sepuasnya, normal2 saja tidak bisa. Tapi, saya tidak sepenuhnya menyerah. Pelan2 chanel2 tv yang 400an (tapi semu) itu saya pelototin satu-satu. Satu-satu? Yaah.. mau gimana lagi? TV guide tidak ada. Nanya ke 4 orang dari Lithuania, India, Kanada, maupun Norway sendiri, juga tidak tahu menahu. Dan tidak berkepentingan :D. Satu, demi satu, akhirnya.... dapet!!! 272! ya nomer itu, siarkan Euro, live!. Pas saat jerman x portugal (perempatfinal). Yuhuuu.. ada juga. Tapi eeit, tunggu dulu. Suaranya kok gak ada? waah.. ditingkahi suara "hujan". Gemerisik. Mau gimana lagi? Adanya itu. Daripada Sopcast. Yang kadang juga tidak dapet itu.

Besoknya saya berharap nasib saya masih 'baik' :). Apa kata? Ternyata tidak. Siaran di 272 hilang. Lemeslah kita :(. Saya baru sadar. Uff.. karena memang sebagian besar tv berbahasa Jerman (mana Jerman mana Norway saya susah membedakan), maka yang disiarkan langsung ternyata partai2 nya Jerman. Yaa sudahlah kembali lagi ke Sopcast.
Tapi nasib baik ternyata 'masih' berkenan menghampiri saya. Ketika iseng2 lagi, pelototin chanel2, ternyata ketemu kembaran 272 di 387. Dan bagusnya, gambar dan suaranya normal. Pada saat itu, Jerman x Turki. Well, ini namanya rejeki. Besoknya rejeki itu ternyata masih ada. Walau sedikit pindah lagi di 23.
OK, paling tidak di partai final besok saya tidak akan kwatir. Karena chanel2 Jerman itu akan pasti menyiarkan negaranya sendiri.
Si temen Dusseldorf bilang : "yaah.. kamu salah negara sii... Coba di sini, tiap malem rasanya orang hiruk pikuk. Kalo Jerman atau Turki menang, malah pesta klakson sampe malam. "
Yaah, mau apalagi, Norway memang bukan negara bola. Ia negara Ski (?). Juga Fjord (kapan2 cerita).
Begitulah, suka duka mengalami : ayam mati di lumbung padi. Di negeri euro malah kesulitan nonton euro.
Itulah makanya judul posting ini adalah : Sshny Nntn Er8 d Ngr Er. Bukan: Susahnya Nonton Euro08 di Negeri Euro.. :D.
Ada yang berkenan memetikkan pelajaran dari sini ? Matur nuwun, eh.. sakalangkong :).
Rabu, 23 April 2008
karena banyak orang...

karena banyak orang menyebar kebencian,
maka kita harus datang menabur kasihsayang
karena banyak orang menempuh kekerasan,
maka kita perlu hadir menawarkan kelembutan
karena banyak orang semangat menyebar kemaksiatan,
maka kita harus lebih banyak mendorong kemaslahatan
karena banyak orang menulis kata-kata tak berjeda,
maka kita perlu banyak berpuisi ria...
hehehe...
Selasa, 15 April 2008
Begitu itu

Jika selangit keindahan itu
Engkau hantarkan Tuanku
Akankah tentram itu
Kan daku genggam selalu
Jika sesamudera kenikmatan itu
Engkau paparkan Tuanku
Benarkah dahaga itu
Kan akhirnya pergi dariku
Ataukah rasa itu
Kan membunuhku
Ataukah hasrat itu
Kan belenggu diriku
Engkau Tuanku yang tahu segala itu
Hanyalah diriku perlu jalani itu
Semoga begitu
Senin, 24 Maret 2008
Vanity is Devil's Favorite Sin, Belajar dari Film
Santai sejenak. Belajar dari film.
Sebenarnya saya ingin komen film AAC - Ayat-ayat Cinta, tapi karena belum nonton, jadi saya toh tidak berhak donk komen :).
Meskipun saya sudah punya komen sendiri tentang AAC ini di sebuah 'milis' dadakan/temporer :), bisalah saya kutip disini (maksa yah?):
Saya bukan penggemar film (apalagi kritikus film hehe).
Sangat-sangat sedikit film2 yg bisa membuat saya terkesan (salah satunya : "Devil's Advocate" - Al Pacino/Keanu Reeves). Bahkan seheboh apapun orang membicarakan film itu (misal, Lord of the Ring, Harry 'Potlot', dst).
Untuk AAC, saya yg telat baca novelnya (baru baca 2007 - ah saya memang tidak terlalu pengen terbawa 'euforia'), memang tidak melihat 'kekuatan luar biasa' seperti yg dihebohkan.
Saya sangat menghormati penulis novel dan juga para penggemarnya, tapi menurut saya, kekuatan novel itu memang bukan di alur ceritanya, - seperti yang dikritisi oleh beberapa pihak, tapi di kemampuan penulis untuk menggabungkan kisah cinta manusiawi dengan 'fatwa2' agama, sehingga tidak berkesan menggurui, dan apalagi menghakimi.
Selebihnya, maaf, alurnya masih bercorak 'India banget':simplifikasi salahsatunya (walau beberapa cerita india sih ada yg bagus juga). Jauh bila dibandingkan dengan misal, punyanya John Grisham.
Krn itu, saya sih belum tertarik nonton 'premiere' filmnya, mgkin nanti2 saja (sekedar pengen tahu :).
Betapapun, AAC pastilah jauh lebih bermutu dari kebanyakan film Indonesia yang mengumbar hantu, maupun kecengengan asmara. Jadi, maju terus AAC.
Kembali ke topik.
Pernah nontoh Devil's Advocate? Film lama kok, lama sekali. Saya saja nontonnya pas pertengahan kuliah dulu, di bawah 2000an. Tapi waktu kemarin2 beberapa kali tayang ulang di
TV2 lokal, masih berminat juga nonton. Walaupun ada yang bilang secara acting, ini film jelek, tapi cukup diapresiasi bagus di sini. Buat saya, bukan karena ngefans berat sama Keanu R, atau al-Pacino, tapi saya mendapat pelajaran yang sangat berarti dari sang film.
Tapi kok bahas film lama sih? Saya memang tidak ingin membahas filmya, cuman mau menyampaikan topik ini saja. Dan kebetulan, juga dikuatkan oleh si film. Bahkan ketika menontonnya berulang, saya masih dapat kesan kuat darinya.

Anda mungkin bisa punya kesan lain tentang film ini. Termasuk teman saya dulu. Saya minta tolong dia nonton film ini. Saya minta untuk perhatikan dialognya dengan cermat. Di akhir film, dia protes keras.. Apaan niy man? Ini sih kayak sinetron biasa. Tidak ada yang perlu diperhatikan. Tidak ada yang special. Well.. semua orang memang bisa punya apresiasi berbeda.
Tapi sungguh saya mendapatkan pelajaran amat penting dari film ini. Bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Juga bukan sesuatu yang asing bagi kita semua. Tapi film ini menyajikannya dengan mengesankan. Paling tidak bagi saya.
Apakah itu ? Cerita tentang Kesombongan.
Bahwa kesombongan adalah dosa azali manusia.
Bahwa kesombongan manusialah yang menjadi penghancur dirinya.
Bahwa kesombongan itu bisa datang kapan saja, saat kita lengah dan terlena.
Bahwa kesombongan bisa dipicu dari luar, maupun dari dalam diri.
Bahwa kesombongan bisa kita taklukkan di suatu sisi, di suatu detik, namun ia juga siap menyergap di sisi dan detik berikutnya.
begitulah....
Seperti kata si Devil (Al Pacino) di akhir film : "Vanity...definitely my favorite sin".
Anda setuju?
Sebenarnya saya ingin komen film AAC - Ayat-ayat Cinta, tapi karena belum nonton, jadi saya toh tidak berhak donk komen :).
Meskipun saya sudah punya komen sendiri tentang AAC ini di sebuah 'milis' dadakan/temporer :), bisalah saya kutip disini (maksa yah?):
Saya bukan penggemar film (apalagi kritikus film hehe).
Sangat-sangat sedikit film2 yg bisa membuat saya terkesan (salah satunya : "Devil's Advocate" - Al Pacino/Keanu Reeves). Bahkan seheboh apapun orang membicarakan film itu (misal, Lord of the Ring, Harry 'Potlot', dst).
Untuk AAC, saya yg telat baca novelnya (baru baca 2007 - ah saya memang tidak terlalu pengen terbawa 'euforia'), memang tidak melihat 'kekuatan luar biasa' seperti yg dihebohkan.
Saya sangat menghormati penulis novel dan juga para penggemarnya, tapi menurut saya, kekuatan novel itu memang bukan di alur ceritanya, - seperti yang dikritisi oleh beberapa pihak, tapi di kemampuan penulis untuk menggabungkan kisah cinta manusiawi dengan 'fatwa2' agama, sehingga tidak berkesan menggurui, dan apalagi menghakimi.
Selebihnya, maaf, alurnya masih bercorak 'India banget':simplifikasi salahsatunya (walau beberapa cerita india sih ada yg bagus juga). Jauh bila dibandingkan dengan misal, punyanya John Grisham.
Krn itu, saya sih belum tertarik nonton 'premiere' filmnya, mgkin nanti2 saja (sekedar pengen tahu :).
Betapapun, AAC pastilah jauh lebih bermutu dari kebanyakan film Indonesia yang mengumbar hantu, maupun kecengengan asmara. Jadi, maju terus AAC.
Kembali ke topik.
Pernah nontoh Devil's Advocate? Film lama kok, lama sekali. Saya saja nontonnya pas pertengahan kuliah dulu, di bawah 2000an. Tapi waktu kemarin2 beberapa kali tayang ulang di
TV2 lokal, masih berminat juga nonton. Walaupun ada yang bilang secara acting, ini film jelek, tapi cukup diapresiasi bagus di sini. Buat saya, bukan karena ngefans berat sama Keanu R, atau al-Pacino, tapi saya mendapat pelajaran yang sangat berarti dari sang film.
Tapi kok bahas film lama sih? Saya memang tidak ingin membahas filmya, cuman mau menyampaikan topik ini saja. Dan kebetulan, juga dikuatkan oleh si film. Bahkan ketika menontonnya berulang, saya masih dapat kesan kuat darinya.

Anda mungkin bisa punya kesan lain tentang film ini. Termasuk teman saya dulu. Saya minta tolong dia nonton film ini. Saya minta untuk perhatikan dialognya dengan cermat. Di akhir film, dia protes keras.. Apaan niy man? Ini sih kayak sinetron biasa. Tidak ada yang perlu diperhatikan. Tidak ada yang special. Well.. semua orang memang bisa punya apresiasi berbeda.
Tapi sungguh saya mendapatkan pelajaran amat penting dari film ini. Bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Juga bukan sesuatu yang asing bagi kita semua. Tapi film ini menyajikannya dengan mengesankan. Paling tidak bagi saya.
Apakah itu ? Cerita tentang Kesombongan.
Bahwa kesombongan adalah dosa azali manusia.
Bahwa kesombongan manusialah yang menjadi penghancur dirinya.
Bahwa kesombongan itu bisa datang kapan saja, saat kita lengah dan terlena.
Bahwa kesombongan bisa dipicu dari luar, maupun dari dalam diri.
Bahwa kesombongan bisa kita taklukkan di suatu sisi, di suatu detik, namun ia juga siap menyergap di sisi dan detik berikutnya.
begitulah....
Seperti kata si Devil (Al Pacino) di akhir film : "Vanity...definitely my favorite sin".
Anda setuju?
Rabu, 02 Januari 2008
(Perayaan) Tahun Baru yang selalu membingungkan (saya)
Tahun baru 2008 baru kemarin datang.
Seperti biasa gegap gempita orang menyambutnya. Macam-macam acaranya. Dari yang pesta kembang api, dangdutan, terompetan, sampai yang mabuk2-an dan begadang sepanjang malam dan dinihari.Tapi juga ada yang ngaji, merenung dan i'tikaf di masjid.
Saya?
Saya selalu bingung melihatnya. Ya, 'melihatnya', bukan menghadapinya.
Ketika orang-orang dengan cerah ceria berseliweran di jalan dan di tempat-tempat hiburan, atau paling tidak menikmati acara TV Old&New, dan (merasa?) berdebar-debar menunggu detik2 pergantian, saya selalu sudah atau pengen tidur pada saat itu.
Saya belum sepenuhnya mengerti kenapa orang-orang bisa sebegitu 'dahsyat' dalam histeria bersama, menghadapi pergantian waktu yang hanya sepersekian detik itu. Apakah dengan berlalunya sesaat yang lalu, atau sehari yang lalu, kita benar-benar memperoleh anugerah yang baru, semangat baru, energi (ter)baru(kan), atau apaun nama dan jenisnya?
Saya cukup mengerti kalau orang membutuhkan titik tolak, butuh 'mimpi' baru, perlu recharging, untuk mengarungi hidup yang (nampak) semakin berat pada masa-masa berikutnya. Tapi merayakannya ?
Apakah dengan perayaan yang gegap gempita seperti itu kita lantas benar-benar memperoleh 'jiwa' dari hal-hal yang kita harapkan di atas? Atau yang kita peroleh hanyalah 'kekosongan' belaka ?
Atau jangan-jangan ini karena saya saja yang 'kurang santai' menghadapi moment seperti itu. Kata orang, lha gitu aja kok dipikir? Lho, kalau gak (pake) dipikir, terus gimana? Langsung ditelan?
Kecurigaan saya yang lain adalah sbb:
- ada kemungkinan orang kebanyakan itu jauh lebih bekerja keras dan sukses dibanding saya, sehingga mereka merasa 'berhak' untuk sekedar merayakan keberhasilan di tahun sebelumnya, dan menyongsong satu tahun ke depan dengan lebih optimis
- mungkin orang-orang sangat 'serius' memaknai pergantian tahun, demikian seriusnya, sehingga mengangap hal itu sebagai sebuah 'ritual' yang setara dengan, misal hari raya agama masing-masing
- mungkin juga orang-orang 'sedikit' (utk yg ini comparative nya 'sedikit' aja, kalo banyak bahaya) lebih stress dibanding saya, sehingga mereka memerlukan refreshing yang lebih banyak dan meriah dibanding saya
- mungkin mereka lebih 'santai' menghadapi apapun dalam hidup, sehingga apa yang ada di depan (seperti gemerlap tahun baru), mending diikuti saja, seperti para tetangga, teman, kerabat, dst.
- Yg paling umum saya kira adalah kata 'hiburan'. Tahun Baru-an adalah hiburan. Yang penting hati terhibur, keluarga, teman-teman, kerabat, semua terhibur. Tidak perlu repot2 dengan maksud dan tujuan, apalagi visi dan misi kegiatan. Wah.. buat apa, wong cuman mau terhibur kok. Toh, semuanya sudah tersedia, sudah disajikan, tinggal dinikmati saja.
Tentu tidak salah orang mencari hiburan, sebatas wajar dan proporsional. Tentu juga seharusnya halal & baik -- kalau kita masih mengindahkannya.
Di luar itupun, masalahnya, bukankah setiap event tradisional/nasional pun sudah kita isi dengan sekian ragam hiburan yang hampir sejenis? Tetangga depan rumah kawinan, kita menikmati dangdutan. Teman anak kita di RT sebelah sunatan, kita dangdutan. Kota dan kabupaten kita ber-hari jadi, dangdutan lagi. 17-an apalagi. Bahkan di hari raya suci Idul Fitri pun, tidak 'dong' rasanya kalau gak ada dangdutannya. TV dan radio juga sudah kita nikmati hampir tiap jam hal yang sama.
Itu baru dangdut dan panggung musik. Belum variasi lainnya..
Jadi, begitu besarnya energi (dan jelas uang!) kita sisihkan untuk menghibur hati kita.
Lalu siapa yang untung ?
Atau ada pandangan yang lebih 'netral' dan jernih dari pada sekedar 'kebingungan saya' ? :)
Betapapun, saya tidak sedang curiga, geram (apalagi 'mencibir') terhadap pribadi-pribadi, teman, tetangga, orang-orang by person, tapi lebih pada kultur komunitas, yang saya ingin obrolkan selebihnya di sesi berikutnya : Tahun Baru, Kultur Selebrasi dan Konsumerisme dan Kepentingan Kapital.
Seperti biasa gegap gempita orang menyambutnya. Macam-macam acaranya. Dari yang pesta kembang api, dangdutan, terompetan, sampai yang mabuk2-an dan begadang sepanjang malam dan dinihari.Tapi juga ada yang ngaji, merenung dan i'tikaf di masjid.
Saya?
Saya selalu bingung melihatnya. Ya, 'melihatnya', bukan menghadapinya.
Ketika orang-orang dengan cerah ceria berseliweran di jalan dan di tempat-tempat hiburan, atau paling tidak menikmati acara TV Old&New, dan (merasa?) berdebar-debar menunggu detik2 pergantian, saya selalu sudah atau pengen tidur pada saat itu.
Saya belum sepenuhnya mengerti kenapa orang-orang bisa sebegitu 'dahsyat' dalam histeria bersama, menghadapi pergantian waktu yang hanya sepersekian detik itu. Apakah dengan berlalunya sesaat yang lalu, atau sehari yang lalu, kita benar-benar memperoleh anugerah yang baru, semangat baru, energi (ter)baru(kan), atau apaun nama dan jenisnya?
Saya cukup mengerti kalau orang membutuhkan titik tolak, butuh 'mimpi' baru, perlu recharging, untuk mengarungi hidup yang (nampak) semakin berat pada masa-masa berikutnya. Tapi merayakannya ?
Apakah dengan perayaan yang gegap gempita seperti itu kita lantas benar-benar memperoleh 'jiwa' dari hal-hal yang kita harapkan di atas? Atau yang kita peroleh hanyalah 'kekosongan' belaka ?
Atau jangan-jangan ini karena saya saja yang 'kurang santai' menghadapi moment seperti itu. Kata orang, lha gitu aja kok dipikir? Lho, kalau gak (pake) dipikir, terus gimana? Langsung ditelan?
Kecurigaan saya yang lain adalah sbb:
- ada kemungkinan orang kebanyakan itu jauh lebih bekerja keras dan sukses dibanding saya, sehingga mereka merasa 'berhak' untuk sekedar merayakan keberhasilan di tahun sebelumnya, dan menyongsong satu tahun ke depan dengan lebih optimis
- mungkin orang-orang sangat 'serius' memaknai pergantian tahun, demikian seriusnya, sehingga mengangap hal itu sebagai sebuah 'ritual' yang setara dengan, misal hari raya agama masing-masing
- mungkin juga orang-orang 'sedikit' (utk yg ini comparative nya 'sedikit' aja, kalo banyak bahaya) lebih stress dibanding saya, sehingga mereka memerlukan refreshing yang lebih banyak dan meriah dibanding saya
- mungkin mereka lebih 'santai' menghadapi apapun dalam hidup, sehingga apa yang ada di depan (seperti gemerlap tahun baru), mending diikuti saja, seperti para tetangga, teman, kerabat, dst.
- Yg paling umum saya kira adalah kata 'hiburan'. Tahun Baru-an adalah hiburan. Yang penting hati terhibur, keluarga, teman-teman, kerabat, semua terhibur. Tidak perlu repot2 dengan maksud dan tujuan, apalagi visi dan misi kegiatan. Wah.. buat apa, wong cuman mau terhibur kok. Toh, semuanya sudah tersedia, sudah disajikan, tinggal dinikmati saja.
Tentu tidak salah orang mencari hiburan, sebatas wajar dan proporsional. Tentu juga seharusnya halal & baik -- kalau kita masih mengindahkannya.
Di luar itupun, masalahnya, bukankah setiap event tradisional/nasional pun sudah kita isi dengan sekian ragam hiburan yang hampir sejenis? Tetangga depan rumah kawinan, kita menikmati dangdutan. Teman anak kita di RT sebelah sunatan, kita dangdutan. Kota dan kabupaten kita ber-hari jadi, dangdutan lagi. 17-an apalagi. Bahkan di hari raya suci Idul Fitri pun, tidak 'dong' rasanya kalau gak ada dangdutannya. TV dan radio juga sudah kita nikmati hampir tiap jam hal yang sama.
Itu baru dangdut dan panggung musik. Belum variasi lainnya..
Jadi, begitu besarnya energi (dan jelas uang!) kita sisihkan untuk menghibur hati kita.
Lalu siapa yang untung ?
Atau ada pandangan yang lebih 'netral' dan jernih dari pada sekedar 'kebingungan saya' ? :)
Betapapun, saya tidak sedang curiga, geram (apalagi 'mencibir') terhadap pribadi-pribadi, teman, tetangga, orang-orang by person, tapi lebih pada kultur komunitas, yang saya ingin obrolkan selebihnya di sesi berikutnya : Tahun Baru, Kultur Selebrasi dan Konsumerisme dan Kepentingan Kapital.
Langganan:
Postingan (Atom)
















